Review Yasha Legends of the Demon Blade — Roguelite dengan Gaya Anime

Sedang Trending 1 tahun yang lalu 42

Review Yasha Legends of the Demon Blade – Roguelite merupakan versi lebih ringan dari genre Roguelike. Kehadiran genre ini bertujuan untuk menyederhanakan genre Roguelike yang terkadang dapat cukup kompleks untuk casual gamer.

Salah satu game Roguelite baru-baru ini rilis berjudul Yasha Legends of the Demon Blade. Game ini dikembangkan oleh stduio 7QUARK yang merupakan studio indie. Jadi, seperti apa sih game ini?

Pada artikel kali ini, Gamebrott akan membagikan Review Yasha Legends of the Demon Blade. Yuk langsung aja kita bahas lebih jauh mengenai game indie Roguelike dengan style anime ini.

Secara dasarnya, Yasha Legends of the Demon Blade merupakan game Rogue-lite dengan gaya anime. Pada game ini, anda akan memilih 3 watak yang mempunyai gaya bermain berbeda dan mengikuti jalan cerita yang cukup menarik sembari menguatkan karakter.

Style Anime dengan Karakter 3D
Desain Karakter AnimeDesain Karakter Anime

Game Yasha Legends of the Demon Blade membawa desain watak Anime yang sangat menarik. Dan jelas, unsur legenda jepang dalam game ini sangat cocok dengan gaya tersebut.

Setiap watak yang hadir juga mewakili ras yang berbeda mulai dari Manusia, Oni, hingga siluman binatang. Karakter-karakter non playable juga mempunyai desain mereka sendiri sehingga unsur “anime” dalam game ini dapat dikatakan penuh dari segi penggambarannya.

3 Karakter, 3 Jenis Cerita
Beda Karakter Beda TimelineBeda Karakter Beda Timeline

Pada game ini, terdapat 3 watak yang dapat anda gunakan adalah Shigure, Sara, dan juga Taketora. Ketika watak ini mempunyai narasi cerita yang cukup berbeda. Tak hanya dari segi jalan ceritanya, namun juga masa cerita tersebut berjalan.

Untuk Shigure, penulis menganggap timelinenya berada di “saat ini” dimana Shigure merupakan remaja yang mendapatkan sebuah misi rahasia dari clannya. Jalan cerita akan berfokus kepada Shigure dan petualangannya.

Sementara itu Sara, Sepertinya timeline cerita berada beberapa belas tahun sebelum masa sekarang dimana diperlihatkan bahwa Shigure tetap sangat mini mungkin di sekeliling usia 5 tahun.

Dan untuk Taketora, cerita mungkin agak sedikit maju dari Sara namun tetap sebelum cerita Shigure karena pada perspektif cerita yang satu ini, Shigure sudah lebih dewasa dibanding cerita Sara.

Meskipun mempunyai jalan cerita dalam rentan waktu yang berbeda, pada dasarnya cerita mereka mempunyai beberapa kesamaan dimana mereka akan melawan siluman ekor sembilan yang mau mengacaukan dunia.

Gaya Bermain Berbeda
3 Karakter3 Karakter

3 Karakter ini mempunyai gaya bermain yang sangat berbeda. Shigure merupakan watak yang berfokus dengan melee dan menggunakan Iai Stance yang merupakan mekanik Parry (dalam game ini disebut Mystic Arte) yang akan memberikan keuntungan kalau sukses dilakukan.

Sara mempunyai gaya bertarung yang lebih agresif dengan dual blades. Dirinya juga mempunyai Mystic Arte yang membuatnya terlihat “TERMOTIVASI” kalau sukses melakukan Parry. Dan tentu ini menggambarkan Archetype watak dengan gaya bertarung sigap dan Stylish.

Sementar itu untuk Taketora mempunyai gaya bertarung yang sangat berbeda. Dirinya memilik Panah sehingga menjadi satu-satunya watak dengan jarak serangan yang jauh. Melee yang dimilikinya cukup simpel dan dirinya juga mempunyai Mystic Arte.

Bagi penulis, diantara 3 watak ini yang sangat gampang digunakan ialah Taketora dimana dirinya dapat melakukan serangan jarak jauh tanpa perlu memikirkan Parry dan hanya perlu spam Charged Shot saja hingga tamat.

Loop Hingga Tamat?
Loop Hingga TamatLoop Hingga Tamat

Saat artikel ini ditulis, penulis telah menamatkan game dengan menggunakan Taketora. Dan menurut penulis, untuk mencapai akhir cerita dari watak ini terlalu banyak pengulangan yang terjadi.

Memang, secara jalan cerita, pengulangan ini cukup masuk akal. Namun ragam antar Chapter cukup minim sehingga terlihat seperti mengulangi kembali yang telah kita lalui. Hanya saja perbedaan kuat berada di chapter akhir.

Namun kembali lagi, Yasha Legends of the Demon Blade merupakan game Roguelite sehingga pengulangan merupakan hal yang sangat wajar. Hanya saja, pengulangan ini memang tak begitu mempunyai ragam stage yang banyak.

Mati Merupakan Bagian dari Progress
Upgrade Setiap Mulai KembaliUpgrade Setiap Mulai Kembali

Seperti game Roguelike dan Roguelite pada umumnya, kegagalan merupakan bagian dari progress untuk menjadi lebih kuat. Meskipun anda akan kembali ke stage awal, anda akan dapat meningkatkan damage dan status-status lainnya menggunakan resource yang anda miliki.

Menariknya, setiap Chapter akan menjadi Checkpoint pemeran dimana semakin banyak yang dapat diupgrade setiap chapter baru terbuka. Dan juga pemeran tak perlu mengikuti loop dari Chapter sebelumnya kalau sudah mencapai chapter terbaru.

Beda Senjata, Beda Efek
Beda Senjata Beda EfekBeda Senjata Beda Efek

Mengenai persenjataan, Yasha Legends of the Demon Blade mempunyai mekanisme yang cukup menarik. Setiap watak dapat membawa 2 senjata dimana setiap senjata yang ada mempunyai dampak yang berbeda-beda.

Seperti contohnya Taketora mempunyai panah dengan dampak damage yang tinggi namun tak mempunyai area. Untuk menutupi kekurangan, anda juga dapat membawa panah yang mempunyai serangan Ricochet sehingga meratakan minion lebih mudah.

Setiap senjata juga dapat ditingkatkan efeknya dengan menggunakan material. Tidak hanya tiba disitu saja, kalau pemeran telah menamatkan story, maka pemeran juga dapat mengakses material yang lebih kuat untuk ke tingkat yang lebih tinggi lagi.

Ada Hub Berisikan Shop
Hub PenghubungHub Penghubung

Untuk mempermudah perjalanan, Yasha Legends of the Demon Blade mempunyai beberapa fitur yang dapat meringankan pemain. Salah satunya ialah Hub alias Desa penghubung antar stage.

Desa ini akan menghadirkan tempat heal, shop, restoran buff, skill shop, dan juga Challenge. Yang menarik disini menurut penulis ialah Restoran dan juga Challenge yang dapat diambil pemain.

Makan Dapat BuffMakan Dapat Buff

Untuk Restoran, anda dapat membeli makanan dengan syarat anda telah mendapatkan bahan masakannya selama run yang anda lakukan. Buff yang dihadirkan juga bermacam-macam sehingga anda dapat menentukan apa yang anda perlukan.

Untuk Challenge, tantangan yang dihadirkan tentunya akan memberi anda cobaan yang harus dilalui demi mendapatkan dampak bonus dalam run kamu. Tapi jangan khawatir, ini merupakan pilihan opsional dan kalau anda kalah, anda akan kembali ke tempat challenge dengan separuh darah.

Tamat Juga Masih Bisa Lanjut
Hell Floor Tantangan SebenarnyaHell Floor Tantangan Sebenarnya

Tamat dalam Yasha Legends of the Demon Blade bukan berarti game akan selesai. Memang secara cerita, tak ada jalan cerita tambahan, namun tantangan tentunya akan hadir kalau anda sudah menamatkan game ini.

Setelah tamat, akan terbuka suatu mode yang memberikan tantangan level “neraka” dengan bonus-bonus tertentu. Tantangan ini dapat diatur oleh pemeran seperti persentase tambahan jumlah musuh, damage musuh, besaran critical musuh, pengurangan max HP pemain, dan sebagainya yang dapat menambah tantangan lebih berat lagi.

Kesimpulan, Simpel dan Cukup Mudah
Simpel Dan SeruSimpel Dan Seru

Secara keseluruhan, Yasha Legends of the Demon Blade menghadirkan permainan Roguelite yang cukup simpel. Dan game ini juga dapat dinikmati oleh gamer yang bukan penikmat genre tersebut.

Namun simpel dan kemudahan ini dapat menjadi kekurangan sendiri untuk beberapa bagian. Seperti kurangnya ragam stage membikin beberapa momen terkesan terlalu repetitif dibanding roguelike ataupun roguelite pada umumnya.

Untuk menamatkan game ini sendiri tak begitu susah hanya perlu sedikit kesabaran dan kalau menemukan build yang absurd seperti di watak Taketora, permainan akan menjadi sangat mudah.

Tantangan yang sebenarnya malah hadir pada fitur Hell Floor yang menyajikan beberapa restriksi agar permainan menjadi lebih hardcore. Tentunya fitur ini hadir agar para penikmat genre Roguelike dapat menantang permainan ini tiba ke strata paling atas.

Penulis menyarankan game ini untuk para gamer casual yang mau mencicipi genre Roguelite/Roguelike dan juga untuk para veteran genre tersebut yangi ngin memainkan game yang sedikit lebih santai. Apakah kalian tertarik memainkan Yasha Legends of the Demon Blade?

Yasha: Legends of the Demon Blade

Secara keseluruhan, Yasha Legends of the Demon Blade menghadirkan permainan Roguelite yang cukup simpel. Dan game ini juga dapat dinikmati oleh gamer yang bukan penikmat genre tersebut.

PROS

Mekanisme Simpel

3 Story Berbeda

Hell Floor Menantang

CONS

Variasi Stage kurang

Taketora Terlalu Mudah Ditamatkan dibanding Karakter Lain

Baca juga informasi menarik lainnya dari Gamebrott terkait Game Review atau artikel lainnya dari Javier Ferdano. For further information and other inquiries, you can contact us via author@gamebrott.com