[OPINI] Harapan Kami untuk GPU NVIDIA RTX 4000 Series

Sedang Trending 4 tahun yang lalu 88

Berseliwerannya informasi mengenai kartu grafis alias GPU NVIDIA RTX 4000 Series tampaknya tetap jadi sesuatu yang cukup hangat untuk dibahas. Memiliki codename Ada Lovelace, yang dikatakan akan jadi penerus tahta formal dari NVIDIA RTX 3000 Series saat ini.

Kami sekarang telah formal hadir di platform Tiktok! Follow akun Tiktok kami di @gamebrott.com untuk menjumpai berbagai informasi serta konten-konten video menarik kami lainnya.

Tentunya, tak ada salahnya berharap bahwasanya GPU NVIDIA RTX 4000 Series ini nantinya akan benar-benar worth untuk dimiliki. Sama halnya dengan pembahasan kali ini, dimana kami tuangkan asa kami untuk kartu grafis teranyar yang tetap dalam tahap penyempurnaan.

Oleh karenanya, mewakili gamers dan content creators, berikut ialah asa kami terhadap Ada Lovelace yang akan meluncur dalam waktu dekat.

Harapan Gamers dan Content Creators Saat Ini, Ada Lovelace

Mencicipi teknologi terbaru tentu butuhkan premium tak sedikit. Namun, kami merasa tak ada salahnya untuk berharap bahwasanya kartu grafis yang akan rilis nanti bisa penuhi ekspektasi gamers dan content creators, bukan mereka para miners.

Di bawah ini ada beberapa asa yang mungkin dapat dikabulkan oleh raksasa teknologi manapun:

1. Ketersediaan yang Harus Benar-Benar Transparan

Harapan kami terhadap NVIDIA RTX 4000 Series tak lain dan tak bukan ialah ketersediaan yang harus benar-benar transparan. Terlebih dengan insiden dimana raksasa NVIDIA tak mau buka-bukaan terkait kemana saja GPU tersebut terjual, tentu membikin gamers dan content creators was-was.

Iya, kita tak dapat egois dan bacotin mereka, karena yang namanya perusahaan sudah barang tentu lebih mementingkan cuan. Sama halnya dengan distribusi, bila memandang tindak-tanduk para raksasa manufaktur, kami merasa bahwasanya mereka ‘tengah berusaha’ atasi ‘kelangkaan’ saat ini. Hanya saja langkah yang dilakukan belum maksimal.

Chip Shortage Kelangkaan Chip

Namun, tetap tak ada salahnya mengharapkan yang terbaik untuk kemudian di-PHP-in, dan percaya pada sang manufaktur terkait stok yang disediakan.

Intinya, manufaktur gak usah bacot “kami mendukung gamers” kalau tak transparan. Buatmu yang penasaran seputar konspirasi chip shortage, mungkin dapat baca artikel ini.

2. Penerapan Sistem LHR yang Lebih Niat

Setelah memastikan ketersediaan stok yang haruslah transparan, kita akan dihadapkan pada problematika kedua yang juga serius, adalah cryptomining. Aktivitas mining ini termasuk meresahkan, karena alih-alih gunakan perangkat yang dianjurkan semacam Antminer, para miners malah memborong GPU tiba lusinan.

Nvidia Lhr Malah BlunderHanya diimplementasikan pada kartu grafis kelas atas, Sumber: NVIDIA

Entah manufaktur yang kelewat memble dalam membikin sistem Lite Hash Rate (LHR), atau para programmer yang kelewat pintar, who knows. Namun, kebobolan dua kali dari yang awalnya 70% dan kini 100% merupakan indikasi serius adanya ‘permainan’ yang mungkin saja terjadi.

Bukannya mencari langkah untuk memperbaiki celah tersebut, kubu hijau malah terkesan masa bodoh dan tampak lebih utamakan cryptominers. Yah, logikanya gamers dan content creators mempunyai budget terbatas dan hanya bisa beli satu-dua unit, sedangkan cryptominers dapat memborong ratusan unit seketika.

Sistem Daggerhashimoto Lhr

Lebih mementingkan gamers dan content creators? Kami rasa tidak, karena money talks, dan cuan mudah didapat dari cryptominers, oof.

Kembali tak ada salahnya berharap sesuatu yang tak mungkin terjadi ke depannya NVIDIA RTX 4000 Series bakal dibekali LHR yang lebih sempurna. Atau mudahnya, ‘mematikan’ kegunaan cryptomining pada kartu grafis anyar tersebut dan jadikan standar baru atasi mining.

3. Gak Usah Drama Wajib Bundel-Bundelan

Susah payah menabung, namun untuk membeli kartu grafis anyar NVIDIA kita selaku konsumen dipaksa untuk membelinya secara bundel. Entah dengan motherboard, power supply, atau tiba yang ekstrimnya dipaksa harus merakit personal computer secara keseluruhan, tentunya dalam satu transaksi.

Model ‘bisnis’ seperti ini berlangsung semenjak bumi dilanda pandemi dan meroketnya tren cryptomining dalam skala global.

Bodoh rasanya memaksa konsumen mengeluarkan alokasi biaya lebih hanya demi menjajal teknologi baru dengan dalih ‘stok terbatas’ atau bahkan ‘kelangkaan’.

Justru dengan drama wajib bundel-bundelan ini makin lunturkan kepercayaan masyarakat yang mengerti apa yang terjadi terhadap distributor lokalan berikut manufaktur. Iya, kembali kita disuguhkan money talks.

4. NVIDIA RTX 4000 Series Harus Lebih Hemat Daya

Berkacamata dari seluruh kemungkinan yang terjadi, bolehlah rasanya berharap bahwa GPU NVIDIA RTX 4000 Series lebih irit daya alias efisien. Meski rumor yang berseliweran katakan bahwa konsumsi daya dari kartu grafis ini dapat menembus 1.000W, namun semoga hal tersebut invalid.

Buat anda yang penasaran gambaran kasar spesifikasi yang ditawarkan GPU dengan codename Ada Lovelace ini, simak di bawah.

Dibuat secara spesifik oleh TSMC dengan berpedoman pada N5 atau N4Tawarkan tiba dengan 18.432 CUDA coresBesaran VRAM tiba dengan 48GB GDDR6X dengan bus-width 384-bitManfaatkan 2 kabel 16-Pin untuk memasok daya dengan PCI Express 5.0Membutuhkan daya tiba dengan 900W (bisa lebih dan dapat kurang)

Berbekal teknologi yang ada saat ini, bukankah akan cukup mudah untuk menggodok kartu grafis makin sempurna dan lebih efisien saat perilisan nantinya? Sayang rasanya bila untuk mencapai level selanjutnya kita harus rela biarkan kartu grafis menyantap daya 1.000W sendiri, bukan?

**90 PG137/139-SKU330, AD102-300, 24G 21Gbps, 600W

— kopite7kimi (@kopite7kimi) April 11, 2022

Seorang leaker handal yang biasa berikan spoiler seputar bumi komputer pun angkat bicara terkait besaran daya yang dibutuhkan.

Lucu rasanya bila kita harus sediakan power supply ekstra demi memasok daya pada kartu grafis tersebut. Bukannya makin berlomba-lomba untuk irit daya demi bumi yang kerap disangkutpautkan, malah besaran daya tak sehat ini akan eliminasi bumi lebih cepat.

5. Price to Performance yang Masuk di Akal

Setelah poin-poin egois di atas yang mewakili gamers dan content creators, sudah barang tentu berikutnya NVIDIA RTX 4000 Series harus tawarkan harga yang masuk di akal. Hal ini tentunya tak boleh dilupakan karena tiba saat ini pun resolusi 1080P tampak tetap merupakan yang paling banyak digunakan.

Hal ini dikuatkan dengan adanya NVIDIA DLSS, AMD FSR (1.0, 2.0, tiba dengan RSR) tersedia untuk ‘memudahkan’ upscaling suatu game. Teknologi tersebut tak hanya menyasar kartu grafis entry-level, namun tiba dengan kasta mid-high untuk hasilkan resolusi yang telah disediakan sebelumnya.

Proses Upscale Amd Fsr

Alami rasanya bila kami katakan bahwa takkan ada beda performa secara masif bila tak dibarengi dengan taksiran yang sesuai. Logikanya, lakukan apa gelontorkan uang tak sedikit bila pada akhirnya kita akan manfaatkan teknologi DLSS dan FSR untuk lakukan upscale.

Ini bukan tahun 2010-an di mana kemampuan sebuah kartu grafis haruslah menyantap banyak daya demi hasilkan visual fantastis. Lompatan 10 tahun lebih rasanya sudah lebih dari sekedar cukup untuk mematangkan teknologi yang sudah ada.

Jadi, bila nantinya GPU Ada Lovelace tersebut tak hadirkan price to performance yang sesuai, mungkin saat yang pas kembali menanti alternatif lain. Tentunya, ini seluruh berkat gamers dan content creators yang kini sudah mulai melek dengan perkembangan teknologi, jadikannya cukup susah ‘dibodohi’. You are the best!

6. Gunakan Jenis Memory yang Lebih Mutakhir

Meneropong ke belakang, kartu grafis diawali dengan memory GDDR1 dengan interface Accelerated Graphic Ports (AGP) 8x. Kemudian diikuti dengan memory GDDR2 yang sudah gunakan interface PCI Express 2.0.

Diteruskan dengan memory GDDR3 yang merangkak manfaatkan PCI Express 3.0. Sampai yang paling umum kita temui dan gunakan di era now, adalah memory GDDR5 yang tetap didominasi PCI Express 3.0.

Di tahun ini, bahkan mulai berseliweran memory GDDR6 yang manfaatkan interface PCI Express 4.0, bahkan 5.0.

Artinya, dalam rentang beberapa tahun, sebuah kartu grafis alias GPU wajib hukumnya untuk senantiasa gunakan jenis memory yang lebih mutakhir. Namun, dibutuhkan waktu tak sejenak untuk makin sempurnakan teknologi yang sudah ada saat ini.

Gddr7 Samsung Ram Memory

Katakanlah sebuah perusahaan teknologi dari Korea bernama Samsung yang pada akhir tahun lampau goda kehadiran GDDR7. Artinya, tak menutup kemungkinan bahwa NVIDIA RTX 4000 Series akan manfaatkan potensi dari GDDR7 secara maksimal.

Beda bandwidth yang konon katanya selalu berada di kisaran 50% kerap digembar-gemborkan akan jadi juru selamat dan solusi bumi teknologi. Berikut dengan besaran VRAM yang ditawarkan, yang makin lama makin masif saja.

Terlebih bila kita kaitkan dengan persiapan menuju era metaverse, tampaknya akan lebih cocok bila dibarengi dengan kartu grafis yang mumpuni.

7. Bisa Memacu Kompetitor dalam Berinovasi

Selain keenam hal di atas, asa terakhir kami untuk GPU NVIDIA RTX 4000 Series dapat memacu kompetitor dalam berinovasi. Bukan sekedar luncurkan kartu grafis memble bin ampas yang digembar-gemborkan ‘worth it’ oleh influencer di era now semacam RX 6500 XT atau RX 6400.

Amd Wattman Rx 6400

Apa gunanya teknologi serba baru bila tak dibarengi dengan price to performance yang merupakan hal fundamental? Kembali tak usah berdalih chip shortage atau ‘kelangkaan’, karena para gamers dan content creators sudah eneg dengan dalih itu melulu.

Ketimbang meluncurkan produk gagal yang dijual sekuat tenaga, bukankah lebih bagus berbenah diri mengembangkan teknologi yang lebih baik?

Baca juga informasi menarik lainnya terkait Tech atau artikel lainnya dari Bima. For further information and other inquiries, you can contact us via [email protected]