[OPINI] Bangkit dan Jatuhnya Compact Disc, Media Penyimpanan yang Tergerus Zaman

Sedang Trending 1 tahun yang lalu 47

Kamu yang sudah melalui tahun 90an hingga 2000 awal niscaya sudah tak asing dengan Compact Disc. Kepingan cakram yang biasanya disebut dengan CD ini dapat berisikan film dan musik bagus original maupun bajakan. Tidak hanya itu, CD juga biasanya digunakan untuk kebutuhan menyimpan file software PC maupun game.

Hanya saja, sejak akhir 2010 hingga sekarang, kepopuleran compact disc bahkan sudah dapat dikatakan sirna begitu saja. Selain penggantinya yang jauh lebih superior seperti DVD dan Blu-ray Disc sudah bisa menggeser posisi media tersebut. Hadirnya penyimpanan portable berbasis flash memory seperti USB stick dan SD turut menjadikan media ini semakin sigap tertinggal.

Compact Disc mengubah banyak sejarah distribusi konten sejak awalnya dikenalkan. Dunia mulai mengenal konten digital dan secara perlahan menggeser posisi media analog. Bisa dikatakan, CD ialah masa peralihan dari konten yang sepenuhnya analog menjadi sepenuhnya digital seperti sekarang.

Compact Disc, Media Penyimpanan Serbaguna Era Peralihan
ImageCD-ROM yang kini mulai terlupakan

Sebelum bumi diambil alih oleh situs dan layanan streaming lagu seperti Spotify atau Apple Music, kebanyakan dari kita kalau mau memutar lagu biasanya lewat pemutar CD. Meski kebanyakan bumi sudah tak lagi menggunakan langkah seperti ini sekarang (kecuali pasar musik Jepang yang tetap aktif). CD ialah media yang paling atraktif bagi musisi untuk mengenalkan lagu mereka.

Mungkin karena era tersebut internet tak segemerlap sekarang, distribusi media fisik tetap menjadi satu-satunya langkah paling ampuh untuk penyaluran musik. Berbeda dengan sekarang yang konsentrasi utama berada di platform streaming dan media sosial.

Tapi, bagi kita para gamer, CD tak hanya merupakan sebuah penyimpanan musik belaka. Kalau anda lahir di era PS1, media yang digunakan saat itu tak lain dan tak bukan ialah compact disc. Memang, umur CD di konsol juga tak begitu panjang karena langsung tergantikan oleh DVD di era PS2, tapi untuk penyebaran cakram game PS1 di Indonesia sendiri tetap cukup tinggi di era pertengahan 2000an, setelah PS2 berjaya sekali pun.

Untuk PC gamer, distribusi game juga datang dari CD. Ketika itu, Steam bahkan belum menjadi platform distribusi game. Perlu waktu hingga 2005 baru layanan Valve tersebut terbuka untuk publisher pihak ketiga. Jadi, distribusi game di akhir 90an hingga awal 2000 kebanyakan menggunakan CD-ROM.

Maka tak heran kalau anda memandang PC era itu selalu mempunyai optical drive untuk CD. Karena, kebanyakan game dan software komputer tetap melalui proses distribusi CD-ROM. USB Flash drive dikala itu ialah media yang tetap relatif mahal dan harganya mungkin tak terjangkau oleh sebagian besar orang.

Compact Disc Sudah Tidak Lagi Digunakan?
ImageGame yang distribusinya tetap menggunakan CD

Kalau anda bertanya kepada anak yang termasuk kategori gen Alpha tentang CD, mungkin mereka tahunya itu ialah media yang antik dan jauh lebih inferior dibanding Blu-ray Disc. Tapi, bagi generasi millennial dan gen Z, CD ialah media yang penuh nostalgia dan semakin susah ditemukan.

Tapi, itu bukan berarti media ini sudah kehilangan tempatnya sama sekali. Beberapa industri tetap bergantung pada media tersebut seperti industri musik salah satunya. Di Asia Timur seperti Jepang, distribusi musik utama tetap bergantung pada jalur CD-ROM. Memang, belakangan ini kepopuleran streaming seperti Spotify dan Apple Music yang lanjut meningkat berpotensi menggerus bisnis Compact Disc.

Era Kecerdasan Natural Tanpa Algoritma
ImageKoleksi media fisik yang mulai jarang ditemukan

Untuk 3 orang tersisa di bumi ini yang tetap menggunakan CD, apa argumen mereka untuk tetap menggunakan media konvensional dan antik ini di tahun yang serba streaming dan digital download? Terlebih kalau kita membahas soal musik.

Tidak dapat dipungkiri hadirnya media streaming memang sangat membantu dalam mengenalkan kita ke artis yang jarang terdengar. Spotify dan kawan-kawannya ialah gerbang yang mengenalkan ke ribuan atau bahkan puluhan ribu artis baru yang mungkin tak akan kita kenal kalau sekarang bukan era internet.

Hanya saja, era semacam ini juga menimbulkan pertanyaan baru bagi sebagian orang. Apakah artis yang kita dengar karena rekomendasi mingguan itu murni karena apa yang pengen kita dengar, atau selera musik kita di-dikte oleh robot yang menyusun list berdasarkan preferensi.

Karena mau bagaimana pun, musik ialah pengalaman spiritual yang sangat personal. Jika proses mencari musik itu pun harus disusun oleh algoritma yang sekadar menebak-nebak, rasanya ada yang salah dari segala hal.

Pertanyaan ini tak akan ditemukan ketika era CD tetap menjadi prioritas pertama dan utama dalam distribusi musik. Jika kita ke toko musik dan mencari artis baru yang tak dikenal, musik yang belum pernah kita dengar. Proses itu ialah sesuatu yang natural, kita memilih apa yang mau kita dengar, apa yang kita rasakan saat itu juga.

Kesimpulan
ImageStreaming vs CD, dua era yang beda total

Walau tak lagi terkenal di era gen Alpha, susah rasanya untuk memandang CD menghilang seratus persen. Memang, tingkat popularitasnya tak lagi setinggi era 2000an. Rasanya senang saja tetap ada beberapa industri yang tetap menggunakan CD di era yang serba digital ini. Gimana menurut kamu? Apakah anda kangen dengan media fisik yang mungkin terasa vintage ini? Apa pengalaman menarik anda yang dapat anda share?

Dapatkan informasi keren di Gamebrott terkait Tech atau artikel sejenis yang tak kalah seru dari Andi. For further information and other inquiries, you can contact us via author@gamebrott.com.