[Opini] Apple Tax, Harga Premium yang Perlu Dibayar Demi Produk Apple

Sedang Trending 1 tahun yang lalu 44

Menyebut nama Apple, yang terpikirkan niscaya produk overprice demi fitur lebih minim dari kompetitor. Pengguna produk Apple pastinya sudah tak asing dengan istilah ‘Apple Tax’, dimana pengguna harus membayar lebih demi merasakan apa yang Apple tawarkan. Peliknya, banyak pula yang rela membayar harga premium tersebut. Mengapa?

Apple Tax, Apa Itu dan Mengapa Bisa Ada?
ImageApa itu Apple Tax?

Apple Tax sendiri bukan sebuah istilah yang diciptakan oleh Apple. Melainkan istilah yang beredar secara awam kalau produk-produk buatan Apple jauh lebih mahal karena produk tersebut dibuat oleh Apple.

Kebanyakan alasannya karena produk Apple bersinonim dengan kualitas premium, desain yang minimalis, dan performa ngebut. Belum lagi, membeli produk Apple seperti iPhone maupun MacBook dapat memberikan rasa gengsi untuk kalangan menengah ke bawah. Tapi, apakah benar seluruh produk dari Apple selalu sinonim dengan imej terbaik? Mengapa pengguna tetap mau membayar harga tak masuk akal yang dipatok Apple meski sudah banyak alternatif lain yang tersedia di pasaran sekarang?

Margin Keuntungan Apple
ImagePricing iPhone terbaru

Mari kita mulai dengan katakan kalau Apple tak terlalu peduli dengan istilah Apple Tax itu sendiri. Karena strategi bisnis mereka sebenarnya tak berfokus pada menguras uang pengguna semaksimal mungkin. Melainkan yang mereka lakukan selama ini ialah menetapkan strategi harga yang optimal untuk produk mereka.

Yang menjadi perhatian Apple ialah menjaga gross margin dollar. Bila mereka menetapkan harga yang terlalu tinggi (untuk iPhone misalnya) dan menyebabkan nomor penjualan rendah mungkin dapat diseimbangkan dari pendapatan penjualan.

Namun, keadaan sebaliknya kalau sebuah produk dipatok terlalu rendah harganya, nomor penjualan tinggi dapat saja tak bisa menutupi gross margin mereka. Maka, Apple sebisa mungkin harus menjaga nomor tersebut stabil.

Unik dan Eksklusif
ImageBerikan kesan eksklusif

Berbicara soal Apple, tak jarang juga banyak istilah seperti “ekosistem” dilontarkan. Karena Apple dengan pintarnya mengunci opsi pengguna untuk berpindah ke platform lain. Semua produk dirancang untuk bekerja dengan bagus satu sama lain. Jadi, pengguna yang mau berpindah platform akan merasakan kehilangan seluruh kenyamanan yang sudah mereka nikmati.

Apple jadinya berani mematok harga yang lebih premium karena tahu bahwa psikologi penggunanya yang sudah mempunyai banyak produk Apple perlu memikirkan ulang berkali-kali kalau mau beralih memandang taman sebelah.

Semua OS dari hardware mereka seperti MacOS dan iOS juga eksklusif hanya ada di produk Apple. Berbeda dengan Android atau Windows yang tersedia di banyak brand, Apple memastikan kalau eksklusivitas ialah barang premium yang hanya dapat ditemukan pada produk mereka.

Citra Brand Apple Memicu Loyalitas Pelanggan
ImageApple user akan kembali beli produk terbaru

Sebagai mana kita tak suka dengan Apple, tak dapat dihindari kalau banyak pengguna Apple yang tetap memilih produk dari perusahaan tersebut karena gambaran brand yang baik. Apalagi kalau anda sudah rela mengeluarkan ratusan hingga ribuan Dollar untuk membeli produk terbaik, nama dari sebuah brand sudah niscaya sedikit banyak menjadi pertimbangan.

Hal yang sama juga sebenarnya terjadi tak hanya pada Apple. Sebut saja rival mereka Samsung. Dinobatkan sebagai raja Android di pasar barat, Samsung juga sukses memberikan gambaran brand yang bagus karena penemuan dan penggunaan hardware yang selalu paling canggih saat itu.

Implikasinya, pelanggan yang sudah loyal akan lebih rela untuk mengeluarkan uang lebih karena mereka tahu, mereka tak akan dikecewakan oleh produk asal jadi, gampang rusak, atau memberikan pengalaman jelek selama pemakaian.

Sisi Buruk Apple Tax
ImageHarga secara harfiah dan metafora yang perlu dibayar

Sebagai produk premium, memang iPhone dan aksesoris-nya bukan untuk mereka yang kaum mendang-mending. Hal tersebut juga sebenarnya tak tanpa sisi buruk. Harga premium akan menjadi batas penghalang konkret kepada mereka yang tak mempunyai finansial memadai.

Belum lagi Apple harus lanjut menjual iPhone baru setiap tahun. Jika harga yang dipatok sama saja atau tetap naik, dapat saja pengguna tak akan kepincut untuk ganti HP atau MacBook mereka setiap tahun. Ditambah lagi Apple juga menjaga ketahanan produk jadi sebisa mungkin, produk mereka akan jarang rusak.

Argumen lainnya ialah bagaimana demi menyajikan produk yang benar-benar matang, Apple juga jarang memberikan penemuan secara radikal, terutama belakangan ini. Apple benar-benar menerapkan filosofi “Apple way” yang mana mereka akan mengambil sebuah fitur yang sudah ada dan dirancang ulang agar berbeda atau unik di produk Apple.

Sebagai contoh, iPad baru saja mendapatkan aplikasi kalkulator sejak iPadOS 18. Alasan selama ini Apple tak menyertakan fitur tersebut karena mereka kurang percaya dengan pengalaman yang dapat diberikan untuk pengguna iPad. Karena sejatinya, mereka dapat saja memasangkan kalkulator versi iPhone ke iPad, tapi, bagi Apple tak ada hal unik yang dapat diberikan kepada pengguna kalau mengambil langkah tersebut.

Kesimpulan

Sebagai penutup, Apple Tax bukanlah istilah formal yang dikenalkan Apple. Melainkan harga premium yang harus dibayar pengguna untuk produk Apple dibanding produk sejenis dari kompetitor yang jauh lebih murah.

Walau tak jarang kini brand lain juga sudah meniru skema harga serupa dan menjadikan istilah tax tersebut semakin tak relevan kian hari. Seperti produk flagship Samsung dan beberapa brand Tiongkok lainnya yang juga sudah berani mematok harga mendekati iPhone. Gimana menurut kamu? Apakah Apple Tax ialah istilah pas dan tetap relevan di era now?

Dapatkan informasi keren di Gamebrott terkait Tech atau artikel sejenis yang tak kalah seru dari Andi. For further information and other inquiries, you can contact us via author@gamebrott.com.